Menjamurnya perusahaan peer to peer (P2P Lending) seperti menyediakan wadah bagi para investor yang ingin mendapat keuntungan berlipat dengan cara mudah. Sebab, semakin banyak orang yang melakukan pinjaman, maka akan semakin besar pula keuntungan bunga yang mereka dapatkan.

Bagi yang belum mengetahui apa itu P2P, pada artikel ini akan dibahas pengertiannya dan bagaimana cara kerjanya, jadi pastikan untuk menyimak artikel ini hingga selesai, ya.

Apa itu P2P lending?

P2P lending adalah sebuah jasa yang mempertemukan antara investor dan si peminjam melalui media elektronik, seperti aplikasi dan semcamnya, dengan besaran bunga yang sudah ditentukan.

Layanan P2P akan menyediakan, mengelola hingga mengatur operasional pinjaman berbasis teknologi dengan menggunakan media elektronik baik pemberi pinjaman (investor) atau yang menerima pinjaman (borrower).

Lalu, bagaimana cara kerja P2P lending

P2P lending, atau yang seringkali disebut Lander, adalah sebuah platform atau aplikasi, dan media elektronik lainnya yang memfasilitasi investor dan calon peminjam untuk dapat berinteraksi dan berdiskusi mengenai perjanjian pinjaman yang akan dilakukan.

Jika sudah sepakat, nantinya si peminjam harus membayarkan bunga dan pokok pinjamannya sesuai tenor. Dari bunga itulah, investor dan P2P akan memperoleh keuntungan.

Siapa saja yang bisa mendaftar sebagai investor?

Semua orang bisa menjadi investor di P2P lending, dengan syarat, memiliki modal yang cukup. Namun, dibalik keuntungan yang menggiurkan, terdapat risiko yang besar. Terlebih, bagi setiap muslim, transaksi semacam ini diharamkan karena mengandung unsur riba, dan dosanya tidak sepele.

Kerugian dari menjadi investor di P2P

  • Berisiko tinggi

Risiko peminjam telat membayarkan setoran setiap bulannya menjadi risiko paling banyak terjadi yang harus dipertimbangkan terlebih dahulu. Lebih parahnya, tidak sedikit peminjam yang kabur setelah mendapatkan uang pinjaman tersebut.

Meski perusahaan P2P lending menjamin pengembalian dana saat terjadi gagal bayar, namun dana yang akan didapat tidak 100% kembali ketangan Anda. 

  • Risiko kebangkrutan, hingga dibawa kabur

Risiko lainnya yang kemungkinan diterima investor adalah penggelapan dana dari perusahaan P2P yang dipilih. Hal ini bisa terjadi jika kurang teliti dalam memilih perusahaan tempat investasi.

Untuk mengantisipasi hal tersebut, pastikan untuk memilih perusahaan P2P yang sudah terdaftar resmi di Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Perlu diperhatikan juga kredibilitas perusahaan P2P yang dipilih.

Mungkin saja mereka terdaftar di OJK, namun kurang pandai dalam mengelola dana dari investor, sehingga perusahaan tersebut mengalami kebangkrutan atau membawa kabur uang tersebut.

Bagi peminjam baiknya lebih jeli dalam memilih platform P2P lending pun bagi investor, kenali terlebih dahulu perusahaan P2P tersebut sebagai bentuk antisipasi sebelum melakukan perjanjian agar tidak menimbulkan kerugian kepada salah satu pihak. Tetap berhati-hati, ya bagi yang berminat untuk menjadi investor ataupun borrower.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *